Lynx menarik napas dalam-dalam, menenangkan amarahnya. Ia harus bisa mengontrol emosinya agar rencananya untuk mencari kesempatan menolong tawanan bisa berhasil. Ia merangkak kembali mendekati wanita itu, berbicara dengan nada pelan dan menenangkan.

"Tenang... Aku di sini untuk membantumu," bisiknya.

Wanita itu mengerang lemah, membuka matanya sedikit. Tatapannya penuh ketakutan dan kehancuran. Ia berusaha menjauh dari Lynx, tubuhnya gemetar. Namun dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya karena luka-luka yang di alaminya.

"Jangan... jangan sentuh aku," gumamnya dengan suara serak.

Lynx berhenti, mengangkat tangannya meskipun masih terikat. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku di sini untuk menyelamatkanmu. Percayalah."

Wanita itu hanya menatapnya dengan penuh kecurigaan, napasnya pendek dan cepat.

"Aku tahu ini sulit dipercaya," lanjut Lynx. "Tapi aku datang ke sini untuk menyelamatkan kalian semua yang di tangkap mereka. Aku tahu apa yang mereka lakukan kepadamu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi."

Lynx menatap luka-luka di tubuh wanita itu dengan prihatin. Namun, ia tahu ia harus lebih fokus mencari kesempatan untuk kabur. Ia menajamkan pendengarannya, memperhatikan gerakan di luar ruangan. Penjaga itu mungkin akan kembali kapan saja, dan Lynx harus menemukan cara untuk membebaskan dirinya dan wanita itu.

"Aku akan mencoba mengobatimu, kuharap kamu bisa bekerjasama." Kata Lynx sambil meletakkan tangannya di atas tubuh wanita itu.

"Apa... Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara lemah, matanya terbuka sedikit, menatap Lynx dengan penuh kewaspadaan.

Wanita itu berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menghentikan Lynx. "A...apa yang kamu lakukan? Bajingan! Jangan sentuh aku!" Teriaknya marah, namun wanita itu tidak mampu berbuat apa-apa selain mengeluarkan suara dengan sangat lemah.

Lynx menarik kembali tangannya. Dia tidak menduga jika wanita itu akan salah paham dan marah kepadanya. "Dengar! Apa yang akan aku lakukan adalah untuk menolongmu. Caranya terlihat tidak umum, tapi ini adalah caraku mengobati. Kamu harus percaya padaku."

"Jauhi aku. Kumohon. Jangan sentuh aku." Kata wanita itu dengan memelas dengan suaranya yang terdengar semakin sangat lemah.

"Aku tidak bisa membiarkannya. Napasnya sudah sangat lemah." Batin Lynx. Dia lalu mengulangi menjulurkan tangannya di atas tubuh wanita itu.

Wanita itu masih sadar namun tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan atau bersuara. "Aku akan membunuhmu jika ada kesempatan." Batinnya sambil memejamkan mata menahan marah dan malu. Dia merasa sangat marah merasakan tangan Lynx berada diatas dada dan menyentuh bukit kembarnya.  "Dasar pria bejat. Beraninya mengambil kesempatan dari wanita yang terluka."

Namun wanita itu semakin lama semakin menyadari ada yang berbeda. Awalnya dia merasa sensasi yang dirasakannya karena marah dan malu tubuhnya di sentuh pria asing, namun dia menyadari dari tangan pria itu terasa ada aliran hawa hangat yang masuk ke tubuhnya lewat dada dan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Setelah beberapa waktu, wanita itu semakin merasa tubuhnya bertambah segar dan semakin bertenaga. Awalnya, dia tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya, namun sekarang dia merasa tubuhnya mulai pulih. "Ternyata pria ini benar-benar menolongku. Aku sudah salah paham kepadanya." Katanya didalam hati.

Tubuh wanita itu perlahan menjadi lebih tenang. Rasa dingin yang menjalari tubuhnya mulai sirna, digantikan dengan energi yang hangat dan menenangkan. Warna di wajahnya mulai kembali, meskipun ia masih tampak lemah. Wanita itu mengerang pelan, terkejut dengan sensasi hangat yang menjalar melalui tubuhnya.

Dia membuka kedua matanya dan memperhatikan wajah pria yang menolongnya. Mata pria itu terpejam namun tubuh dan wajahnya penuh dengan keringat dan terlihat kelelahan di wajah pria itu. Wanita itu mengerang pelan, terkejut dengan sensasi hangat yang menjalar melalui tubuhnya.

Wanita itu menjadi merah wajahnya, mengingat kesalah pahaman dan tangan pria itu kini terlihat berada persis diatas bukit kembarnya .

Seorang penjaga dari jauh menoleh, dia melihat posisi ambigu Lynx dan tertawa terbahak-bahak."Ternyata pria yang dianggap hebat dan ditakuti oleh suku Monrest adalah manusia yang gemar bercinta dengan wanita yang sudah mau mati. Gayanya saja ingin menolong para tawanan."

Penjaga lainnya ikut menoleh dan tertawa."Sudah tahu mau mati, jadi dia tidak mau melepaskan kesempatan terakhirnya menikmati surga dunia."

Lynx dan wanita itu dapat mendengar pembicaraan mereka sehingga wajah mereka memerah. Namun Lynx berusaha tidak memperdulikan dan tetap berusaha mengobati.

"Maafkan aku. Terpaksa aku melakukan ini karena ingin menyelamatkanmu. Kuharap kamu mengerti." Kata Lynx. Lalu dia menggeser tubuhnya untuk duduk di tempat lain dan berusaha mengatur pernapasan, berharap energinya yang terbuang bisa segera kembali. "Aku memerlukan kekuatanku untuk menyelamatkan semua orang." Gumamnya didalam hati.

Wanita itu masih dalam posisi tidur. Dia memejamkan mata karena malu dan bingung cara menghadapi Lynx.

"Kamu sudah sadar? Seharusnya kondisimu sudah lebih baik sekarang." tiba-tiba Lynx bertanya.

Wanita itu merasa Lynx sudah mengetahui kondisinya. "Terimakasih atas bantuanmu. Maafkan aku karena sudah salah paham sebelumnya."

Lynx lalu kembali mendekati gadis itu dan berkata,"Tetaplah pada posisimu agar mereka tidak curiga." Katanya dengan suara pelan.

Wanita itu menganggukkan kepala. Dia paham dengan maksud Lynx. Wanita itu menahan malu karena tubuhnya terlihat jelas oleh Lynx, namun dia menyadari saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.

Wanita itu tampak mulai merasa tenang . Ia memandang Lynx dengan tatapan penuh harap. "Kau... Kau benar-benar di sini untuk menyelamatkan kami?"

Lynx mengangguk perlahan. "Ya. Tapi aku butuh bantuanmu. Jika ada yang kau tahu tentang tempat ini, atau kelemahan mereka, itu akan sangat membantu."

Wanita itu terdiam, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berkata dengan suara lemah. "Aku tidak tahu banyak... Tapi aku hanya tahu salah seorang dari suku kami telah berkhianat, dan dia yang membuatku berada disini."

"Berkhianat?" Lynx mengulangi kata-kata wanita itu dengan penuh tanda tanya. Dia memandang lagi sosok wanita didepannya yang tertidur tanpa busana di lantai. Lynx tersenyum dan berpikir,"Di dunia ini, banyak wanita cantik seksi yang bisa kulihat tanpa busana. Kurasa masih ada untungnya terdampar di tempat asing ini."

Lynx memperhatikan napas wanita itu. Dari suara dan wajahnya, Ia tahu bahwa wanita itu sudah lebih baik kondisinya dari sebelumnya. Ia menutup matanya sejenak, merasakan aliran energi di dalam tubuhnya yang selalu terkoneksi dengan alam sekitarnya.

"Kita harus bekerja sama. Mereka saat ini mengira aku tidak bisa berbuat apa-apa," Kata Lynx berbisik pelan. Ia mulai memperhatikan struktur ruangan, mengingat kembali posisi penjaga, dan menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya wanita itu dengan suara lebih tegas, meskipun masih ada nada keraguan di dalamnya.

"Aku Lynx," jawabnya tanpa ragu. "Aku datang untuk menolong orang-orang yang ditangkap oleh perampok di tempat ini."

Wanita itu terdiam sejenak, mengingat kejadian sebelumnya saat dia masih terikat. Secara samar-samar dia melihat seseorang bertarung melawan para penjaga. "Apakah kamu yang membuat keributan disini sebelumnya?" Tanyanya.

"Iya, itu aku. Tapi aku tidak menduga, pimpinan perampok ini sangat pintar dan licik. Aku berhasil masuk kedalam perangkap mereka.

Wanita itu akhirnya mulai mempercayai Lynx, "Namaku Jelita. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu... Tapi aku tidak punya pilihan lain."

"Percayalah padaku, Jelita," kata Lynx sambil menarik tubuhnya sedikit mundur untuk memberinya ruang. "Aku akan membawamu keluar dari sini. Tapi aku butuh bantuanmu. Jika kau tahu sesuatu, ini saatnya untuk menceritakannya."

Jelita terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan memberitahumu. Tapi aku tidak tahu apakah itu akan membantu."

Lynx mengangguk, memberi isyarat agar ia melanjutkan.

Jelita menarik napas panjang, mencoba mengingat semuanya. "Aku adalah anak salah satu tetua Suku Yaksa. Kami hidup dengan damai di dekat sungai besar, jauh dari wilayah Monrest. Kami selalu berpindah tempat setiap kali ada tanda-tanda suku Monrest akan mendatangi kami. Tapi semua berubah ketika aku menemukan sesuatu yang seharusnya tidak kulihat."

"Teruskan," kata Lynx sambil memusatkan perhatiannya.